PALU – Dalam upaya memperkuat resiliensi mental di tengah dinamika zaman, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Tengah menggelar sosialisasi khusus mengenai kesehatan mental. Hadir sebagai narasumber utama, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FDKI UIN Datokarama Palu, Dr. Mokh. Ulil Hidayat, S.Ag., M.Fil.I., yang akrab disapa Ustadz Ulil
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Perwakilan BI Sulawesi Tengah beserta jajaran pimpinan, staf pegawai, Persatuan Pensiunan BI (IPEBI), hingga Ikatan Istri Karyawan Bank Indonesia (IIKBI). Kolaborasi lintas institusi ini menjadi bukti bahwa isu kesehatan mental kini menjadi prioritas di berbagai sektor, termasuk perbankan sentral.

Jurang Ekspektasi: Akar Guncangan Mental
Dalam paparannya, Dr. Ulil Hidayat menyoroti fenomena “Gap Ekspektasi” sebagai pemicu utama gangguan mental di era modern. Beliau menjelaskan bahwa ketidakstabilan jiwa sering kali berakar pada jarak yang terlalu lebar antara harapan yang ideal dengan kenyataan yang ada di lapangan.
”Kita sering terjebak dalam angka dan target. Masalah muncul saat kita memaksakan realitas hidup harus selalu sesuai dengan kalkulasi ekspektasi kita. Jika tidak match, terjadilah defisit kebahagiaan yang memicu stres, kecemasan, hingga amarah,” ujar beliau di hadapan keluarga besar BI Sulteng. Selain faktor psikologis, Dr. Ulil juga menyentuh aspek ekonomi dan tekanan sosial digital (media sosial) yang kian mempercepat kerentanan mental masyarakat saat ini.

Mengenal “Wajah” Gangguan Mental Kekinian
Guna memberikan gambaran konkret, Dr. Ulil membedah lima jenis gangguan mental yang sering ditemui namun jarang disadari:
- .Post-Power Syndrome vs. Hubbul Jah: Sering dialami masa purnabakti yang merasa kehilangan orientasi pasca-jabatan. Al-Ghazali menjelaskan bahwa kecintaan pada kedudukan muncul karena keinginan jiwa untuk merasa sempurna dan berkuasa di mata manusia.
- Anxiety Disorder vs. Thulul Amal (Panjang Angan-angan) dan Su’uzhan (Buruk Sangka): Gangguan kecemasan berlebih terhadap masa depan. Al-Ghazali menyebutkan Thulul Amal sebagai pangkal banyak penyakit hati. Seseorang terlalu fokus membangun ekspektasi masa depan hingga lupa bahwa kendali mutlak ada di tangan Allah. Ini berujung pada Su’uzhan billah (buruk sangka pada takdir Tuhan).
- Depresi vs. Al-Ya’su (Putus Asa) & Kufrun Nikmat: Tekanan mental yang melahirkan keputusasaan. Depresi berat sering kali ditandai dengan hilangnya harapan dan rasa hampa. Dalam khazanah spiritual, ini adalah kondisi Al-Ya’su min rauhillah (putus asa dari rahmat Allah). Al-Ghazali menekankan bahwa putus asa muncul ketika seseorang gagal melihat kasih sayang Tuhan di balik musibah.
- Burnout Al-Hirsh (Ambisi Rakus): Kelelahan mental akibat ambisi atau beban kerja yang melampaui kapasitas diri. Burnout adalah titik lelah ketika jiwa dipaksa mengejar standar yang melampaui batas fitrahnya. Kondisi ini menurut Al-Ghazali mengidentifikasi Al-Hirsh (ambisi yang menggebu-gebu terhadap dunia) sebagai api yang membakar ketenangan. Seseorang mengejar target tanpa henti karena merasa tidak pernah cukup.
- Comparison Trap vs Al-Hasad (Iri Hati) : Perasaan rendah diri akibat terus-menerus membandingkan hidup dengan standar orang lain di media sosial. Merasa rendah diri karena melihat kesuksesan orang lain di media sosial adalah bibit paling nyata dari penyakit hati. Ini adalah bentuk modern dari Hasad. Al-Ghazali mendefinisikan hasad bukan hanya ingin nikmat orang lain hilang, tapi merasa sesak dada melihat orang lain senang.
Terapi Al-Ghazali: Sabar, Syukur dan Ridha sebagai Solusi
Menariknya, Dr. Ulil mengintegrasikan temuan psikologi modern dengan khazanah pemikiran Islam klasik, khususnya dari Imam Al-Ghazali. Beliau menegaskan bahwa kesehatan mental memiliki kaitan erat dengan kesucian hati (Tazkiyatun Nafs).
”Dalam pandangan Al-Ghazali, gangguan mental seperti burnout atau comparison trap sebenarnya adalah manifestasi dari penyakit hati seperti Al-Hirsh (ambisi rakus) dan Hasad (iri hati). Obatnya bukan hanya medis, tapi juga penguatan instrumen spiritual,” jelasnya.
Beliau menawarkan dua solusi fundamental:
- Sabar: Bertindak sebagai shockbreaker jiwa. Sabar bukan pasif, melainkan kemampuan mengendalikan diri agar tidak hancur saat dihantam realitas yang pahit.
- Syukur: Berperan sebagai lensa fokus. Syukur melatih kita untuk selalu melihat “aset nikmat” yang masih tersisa, sehingga hati tetap berada dalam kondisi surplus kedamaian, bukan defisit harapan.
- Ridha: Berperan sebagai sistem navigasi. Dengan Ridho , apapun takdir yang ditetapkan dapat diterima dengan lapang dada).
Melalui sosialisasi ini, diharapkan keluarga besar Bank Indonesia Sulawesi Tengah dapat memiliki “cadangan devisa” spiritual yang kuat, sehingga mampu menjaga stabilitas mental di tengah tantangan hidup yang semakin kompleks


