Tak terasa, mentari Ramadan mulai condong ke ufuk perpisahan. Sepuluh hari terakhir telah menyapa, membawa serta debar rindu dan cemas; sudah cukupkah amalan kita? Di saat banyak orang mengejar malam-malam panjang dengan tilawah dan iktikaf di masjid, ada sosok-sosok mulia yang barangkali tak sempat berlama-lama memegang mushaf, karena tangannya sibuk memotong sayur, mengaduk hidangan, dan memastikan seluruh keluarga mendapatkan nutrisi terbaik untuk ibadah mereka.
Bagi seorang ibu atau istri, dapur bukanlah sekadar tempat memasak. Ia adalah “mihrab” tempat cinta dan ketaatan bertaut. Seringkali amalan ini dianggap remeh, rutin, bahkan melelahkan. Namun di mata Allah, setiap tetes keringat yang jatuh karena panasnya api kompor adalah saksi bisu pengabdian yang agung.
Pahala dalam Setiap Sajian
Bayangkan, jika memberi seteguk air saja sudah mengundang ampunan, bagaimana dengan seorang istri yang menghidangkan menu berbuka dengan penuh keikhlasan?
- Pahala Melayani: Menghadirkan suka cita di wajah suami dan anak-anak melalui hidangan adalah bentuk ketaatan yang bernilai jihad.
- Pahala Memberi Buka: Rasulullah saw. menjanjikan ganjaran yang luar biasa bagi mereka yang memberi makan orang berpuasa.
“Barangsiapa yang memberi takjil (hidangan berbuka) bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Jika dalam satu rumah ada suami dan tiga orang anak, maka dalam sehari sang ibu meraih empat kali lipat pahala puasa sekaligus. Jika sebulan penuh? Masya Allah, tabungan pahalanya melimpah ruah, melampaui apa yang bisa dihitung oleh akal manusia.
Refleksi Syukur
Waktu Ramadan memang kian menyempit, namun pintu langit justru sedang terbuka lebar-lebar bagi tangan-tangan yang cekatan menyiapkan takjil. Wahai Ibu, wahai Istri, janganlah engkau merasa rugi atau merasa tertinggal dari pahala mereka yang berlama-lama di atas sajadah, hanya karena waktumu seolah “habis” di depan perapian dapur.
Sebab, ketahuilah… Setiap butir beras yang engkau cuci, setiap tetes air yang engkau tuangkan, dan setiap peluh yang mengalir karena panasnya api kompor, adalah dzikir yang tak terucap namun bergema hingga ke Arsy. Di saat engkau meletakkan piring-piring di atas meja dengan niat tulus membahagiakan keluarga karena Allah, saat itulah engkau sebenarnya tidak sedang sekadar menyajikan makanan—engkau sedang menyusun bata demi bata untuk istanamu di surga.
Setiap aroma masakan yang terhirup oleh suami dan anak-anakmu adalah doa yang mewujud. Ada keberkahan yang mengalir pada setiap suapan yang mereka makan untuk memulihkan tenaga demi beribadah kembali di malam hari. Engkau adalah penyokong tegaknya ruku’ dan sujud mereka.
“Jangan melihat dapurmu sebagai tempat yang melelahkan, tapi pandanglah ia sebagai jalan pintas menuju Ridha-Nya. Yakinlah, pintu surga yang terbuka untukmu bukan karena semata-mata panjangnya shalat malammu, melainkan karena ikhlasnya tanganmu yang memastikan tak ada anggota keluargamu yang berbuka dalam kesedihan.”
Masya Allah, bayangkan betapa senyum bahagia anak-anak saat mencicipi takjil buatanmu adalah “tiket” yang akan membawamu bertetangga dengan Rasulullah di akhirat kelak. Sungguh, lelahmu adalah lillah, dan pengabdianmu adalah mahkota.
“Ibadah bukan hanya tentang dahi yang sujud di atas sajadah, tapi juga tentang tangan yang lelah melayani demi mencari ridha Ilahi. Di balik hidangan berbuka yang nikmat, ada doa seorang ibu yang menembus langit yang di dengar oleh Yang Maha Mengabulkan.”

Dr. Mokh. Ulil Hidayat, S.Ag., M.Fil.I


