Palu, 13 Juli 2025 – Peresmian Majelis Taklim Datokarama Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) UIN Datokarama Palu menjadi momen istimewa dengan kehadiran seorang tokoh intelektual yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dakwah dan pengabdian sosial,. Dr. Adam, M.Pd., M.Si. yang juga Dekan FDKI ini dikenal sebagai sosok teladan; hadir bersama kaum lemah, konsisten memperjuangkan nasib kaum dhuafa dan  berada di garda terdepan dalam mengangkat harkat serta martabat umat.

Dalam ceramah hikmah yang bertema “Spirit 1 Muharram dalam Transformasi Diri dan Masyarakat”, Dr. Adam menyampaikan bahwa peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H harus menjadi momentum refleksi dan perubahan. Ia menekankan bahwa inti dari 1 Muharram adalah transformasi—yakni peralihan dari masa kegelapan menuju pencerahan, dari belenggu keterbatasan menuju kebebasan dan kemajuan.

“Mahasiswa adalah agen perubahan sejati,” tegas Dr. Adam. “Mereka memiliki modal besar: idealisme, semangat mewujudkan keadilan, dan berorientasi pada kebaikan dan kemanusiaan. Namun, perubahan tidak akan pernah hakiki tanpa menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama. Hanya orang hebat yang belajar dari sosok paling hebat sepanjang sejarah—Rasulullah SAW.”

Dalam paparannya, Dr. Adam merumuskan tiga pilar utama transformasi yang dapat diambil dari keteladanan Nabi Muhammad SAW. dan harus ditanamkan ke dalam diri mahasiswa agar mampu menjadi agen perubahan sejati:

  1. Kegelisahan Sosial sebagai Tanda Iman yang Hidup
    Menjadi agen perubahan bermula dari rasa gelisah terhadap kondisi sosial. Kegelisahan ini lahir dari iman yang berfungsi. Iman yang hidup akan melahirkan kesadaran terhadap realitas yang tampak (tersurat), yang tersembunyi (tersirat), bahkan yang terabaikan (tersorot). Mahasiswa harus peka dan terus bertanya: ada apa dengan dunia sekitar saya?
  2. Istiqomah dan Komitmen terhadap Idealisme.
    Transformasi memerlukan komitmen kuat dan keteguhan hati. “Ketika Tuhan memerintah, tidak ada ruang untuk tawar-menawar. Sikap kita harus ‘sami’na wa atha’na’,” ujar Dr. Adam. Jiwa yang jernih akan melahirkan ketegasan sikap. Dalam sejarah, ketika Nabi menghadapi dilema berat bersama pamannya Abu Thalib, meskipun godaan materi, privilege, dan popularitas, Nabi Muhammad saw. tetap teguh pada kebenaran—karena keyakinannya penuh pada Allah.
  3. Tawakal dan Kemandirian sebagai Pejuang Sejati
    Agen perubahan sejati tidak menggantungkan nasibnya kepada makhluk. Seperti Nabi Muhammad SAW yang menyerahkan sepenuhnya perjuangannya kepada Allah SWT, mahasiswa juga harus belajar untuk menjadi pribadi yang mandiri, tidak bergantung pada pujian atau perlindungan manusia, tetapi selalu bersandar pada pertolongan Ilahi.

Dr. Adam menutup tausiyahnya dengan ajakan reflektif, “Jika ingin menjadi hebat, maka belajarlah dari sosok paling hebat: Nabi Muhammad SAW. Di situlah letak transformasi hakiki—menjadikan diri bermakna bagi umat dan bermanfaat bagi peradaban.”