SEMARANG – Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) se-Indonesia yang tergabung dalam Forum Dekan Dakwah dan Komunikasi (Fordakom) menggelar Sarasehan Nasional Taksonomi Keilmuan Dakwah di Semarang, 24-26 Januari 2026. Pertemuan strategis ini bertujuan untuk mempertegas kembali struktur pohon keilmuan dakwah, mulai dari akar, batang, hingga cabang dan ranting keilmuannya.

Acara yang dihadiri oleh seluruh Dekan FDK se-Indonesia tersebut dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Walisongo, Prof. Nizar, M.Ag. Turut mendampingi dalam seremoni pembukaan, Ketua FORDAKOM Prof. Hasan Sazali, MA., Ketua Asosiasi Praktisi dan Dakwah Islam Indonesia (APDII) Prof. Sulthan, serta dihadiri oleh pakar senior dakwah, Prof. Nur Syam, M.Si.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Dekan FDKI Dr. Adam, M.Pd., M.Si., dan Wakil Dekan 1, Dr. Mokh. Ulil Hidayat, S.Ag., M.Fil.I yang turut aktif memberikan sumbangsih pemikiran dalam penyusunan taksonomi keilmuan yang lebih adaptif namun tetap memegang teguh nilai-nilai fundamental dakwah Islam.
Menjawab Tantanga Jaman, Inovasi Lewat Prodi Vokasi dan Profesi
Meski diwarnai perdebatan mengenai penataan prodi, sarasehan ini juga membawa angin segar bagi pengembangan akademik dakwah. Muncul wacana kuat mengenai pembukaan program studi vokasi dan profesi di bawah naungan Fakultas Dakwah.
Kebijakan ini disambut positif oleh para akademisi karena dinilai sebagai jawaban konkret terhadap kebutuhan zaman dan tuntutan profesionalisme di dunia kerja. Dengan adanya prodi profesi, lulusan dakwah diharapkan memiliki sertifikasi keahlian yang lebih spesifik dan diakui secara industri.
Rekomendasi untuk Kementerian Agama
Hasil pemikiran dan rumusan final dari sarasehan tiga hari ini tidak hanya berhenti di tingkat forum. Dokumen strategis hasil kesepakatan para Dekan akan diserahkan langsung kepada Kelompok Kerja (Pokja) Kementerian Agama Republik Indonesia.
Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi pertimbangan utama bagi pengambil kebijakan di kementerian dalam menentukan arah pengembangan institusi dan regulasi akademik dakwah di masa depan.
Click here to add your own text



